air bersih jadi langka

•Mei 18, 2009 • Tinggalkan sebuah Komentar

kenapa yuo setiap kali daris mau ajak aku pergi ke posko porong mesti aku lagi puasa. sebel nggak sih, plus males banget jadinya. iya untung aja nggak panas hari nih, syukur deh…!! mungkin emang tuhan sayang sama aku kali, hehehe. mungkin tadi aku nggak ke posko udah molor kali. tapi enak juga sih dari pada di rumah aku bosen mending ngisi waktu kayak gini.

Kan enak toh cari pengalaman sekaligus tambah wawasanlah dan juga aku bisa nunggu buka puasa ntar sampai maghrib datang. dari pada tidur mulu, biasa emang hobi gimana lagi.loh-loh hobi kok bobok sih hehe..habis enak sih, iya kan?!?

setelah adanya luapan lumpur sekarang air bersih jadi langka. jika sebelumnya airnya cukup dari sumur tapi sekarag harus beli. setiap tiga hari keluargaku harus beli air dua dirigen air bersih seharga Rp 1500. itupun hanya untuk minum sama masak nasi dan untuk keperluan lainnya seperti mandi, cuci baju dll. terpaksa harus pakai air sumur yang dulu. yang sudah tercemar bau lumpur. mutu air tak senyaman dulu sehingga sabunnya cepet habis.

namaku zahrah tinggal di besuki jabon sidoarjo. masalah air bersih menjadi pengeluaran keluarga tetap. setiap bulan harus keluar Rp 15000 sampai Rp 20000. selain itu aku pengen mandi dengan air yang bersih seperti dulu. aku sempet berfikir setiap dusun memiliki sumber air yang bersih meskipun untuk bersama plus gratis. sebaiknya, pemerintah cepat membangun fasilitas air bersih. toh harganya nggak mahal.

Iklan

sadisnya lumpur 2

•Maret 15, 2009 • 7 Komentar

Aku kenakan seragam sekolahku. Berdiri didepan cermin aku menghias wajah cantikku. Dan kupoles wajahku dengan bedak. Ku sisir rambut hitam nan lurus itu dengan lembut. Kubiarkan rambut itu tergerai. Dan tak lupa juga ku tambahkan lip oil dibibir tipisku. Ku pakai sepatu hitamku. Segera kuambil tas coklatku. Kemudian kujabat tangan ibuku.
Lanjutkan membaca ‘sadisnya lumpur 2’

Sadisnya Lumpur

•Maret 15, 2009 • 1 Komentar
masjid terendam lumpur Lapindo

masjid terendam lumpur Lapindo

Mentari pagi telah menampakkan sinarnya. Ayam jantan pun berkokok sahut-menyahut. Saatnya semua aktivitas manusia dimulai. Gelap tanpa secercah cahaya yang melintas didalam kamarku. Namun, masih sempat terdengar suara gaduh yang setiap hari kuĀ  dengar. Ya, suara itu terdengar dari arah dapur. Setiap hari memang Ibu ku yang selalu bangun tidur terlebih dahulu. Mendengar suara itu aku langsung terbangun dari tempat tidurku. Ibu pergi belanja sedangkan aku masih sibuk menyapu halaman rumah. Tugasku telah selesai, dan tepat sekali ibuku pulang dari belanja. Waktu yang tersisa ku buat membantu ibu untuk menyiapkan sarapan pagi.
Lanjutkan membaca ‘Sadisnya Lumpur’