<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>zahrah's Blog</title>
	<atom:link href="http://ceritazahrah.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://ceritazahrah.wordpress.com</link>
	<description>Just another WordPress.com weblog</description>
	<lastBuildDate>Mon, 18 May 2009 08:03:23 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<cloud domain='ceritazahrah.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://www.gravatar.com/blavatar/44568255f1ad80423f39a6ad6b6bc315?s=96&#038;d=http://s.wordpress.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>zahrah's Blog</title>
		<link>http://ceritazahrah.wordpress.com</link>
	</image>
			<item>
		<title>air bersih jadi langka</title>
		<link>http://ceritazahrah.wordpress.com/2009/05/18/air-bersih-jadi-langka/</link>
		<comments>http://ceritazahrah.wordpress.com/2009/05/18/air-bersih-jadi-langka/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 18 May 2009 08:03:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ceritazahrah</dc:creator>
				<category><![CDATA[cerpen]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ceritazahrah.wordpress.com/?p=16</guid>
		<description><![CDATA[kenapa yuo setiap kali daris mau ajak aku pergi ke posko porong mesti aku lagi puasa. sebel nggak sih, plus males banget jadinya. iya untung aja nggak panas hari nih, syukur deh&#8230;!! mungkin emang tuhan sayang sama aku kali, hehehe. mungkin tadi aku nggak ke posko udah molor kali. tapi enak juga sih dari pada [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ceritazahrah.wordpress.com&blog=6963370&post=16&subd=ceritazahrah&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>kenapa yuo setiap kali daris mau ajak aku pergi ke posko porong mesti aku lagi puasa. sebel nggak sih, plus males banget jadinya. iya untung aja nggak panas hari nih, syukur deh&#8230;!! mungkin emang tuhan sayang sama aku kali, hehehe. mungkin tadi aku nggak ke posko udah molor kali. tapi enak juga sih dari pada di rumah aku bosen mending ngisi waktu kayak gini.</p>
<p>Kan enak toh cari pengalaman sekaligus tambah wawasanlah dan juga aku bisa nunggu buka puasa ntar sampai maghrib datang. dari pada tidur mulu, biasa emang hobi gimana lagi.loh-loh hobi kok bobok sih hehe..habis enak sih, iya kan?!?</p>
<p>setelah adanya luapan lumpur sekarang air bersih jadi langka. jika sebelumnya airnya cukup dari sumur tapi sekarag harus beli. setiap tiga hari keluargaku harus beli air dua dirigen air bersih seharga Rp 1500. itupun hanya untuk minum sama masak nasi dan untuk keperluan lainnya seperti mandi, cuci baju dll. terpaksa harus pakai air sumur yang dulu. yang sudah tercemar bau lumpur. mutu air tak senyaman dulu sehingga sabunnya cepet habis.</p>
<p>namaku zahrah tinggal di besuki jabon sidoarjo. masalah air bersih menjadi pengeluaran keluarga tetap. setiap bulan harus keluar Rp 15000 sampai Rp 20000. selain itu aku pengen mandi dengan air yang bersih seperti dulu. aku sempet berfikir setiap dusun memiliki sumber air yang bersih meskipun untuk bersama plus gratis. sebaiknya, pemerintah cepat membangun fasilitas air bersih. toh harganya nggak mahal.</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ceritazahrah.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ceritazahrah.wordpress.com/16/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ceritazahrah.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ceritazahrah.wordpress.com/16/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ceritazahrah.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ceritazahrah.wordpress.com/16/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ceritazahrah.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ceritazahrah.wordpress.com/16/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ceritazahrah.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ceritazahrah.wordpress.com/16/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ceritazahrah.wordpress.com&blog=6963370&post=16&subd=ceritazahrah&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ceritazahrah.wordpress.com/2009/05/18/air-bersih-jadi-langka/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c1ef8e17eb7a764200233ba133a2598a?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">ceritazahrah</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>sadisnya lumpur 2</title>
		<link>http://ceritazahrah.wordpress.com/2009/03/15/sadisnya-lumpur-2/</link>
		<comments>http://ceritazahrah.wordpress.com/2009/03/15/sadisnya-lumpur-2/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 15 Mar 2009 07:22:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ceritazahrah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ceritazahrah.wordpress.com/2009/03/15/sadisnya-lumpur-2/</guid>
		<description><![CDATA[Aku kenakan seragam sekolahku. Berdiri didepan cermin aku menghias wajah cantikku. Dan  kupoles wajahku dengan bedak. Ku sisir rambut hitam nan lurus itu dengan lembut. Kubiarkan rambut itu tergerai. Dan tak lupa juga ku tambahkan lip oil dibibir tipisku. Ku pakai sepatu hitamku. Segera kuambil tas coklatku. Kemudian kujabat tangan ibuku.
“ Bu,aku berangkat ya!”
“Ya, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ceritazahrah.wordpress.com&blog=6963370&post=6&subd=ceritazahrah&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Aku kenakan seragam sekolahku. Berdiri didepan cermin aku menghias wajah cantikku. Dan  kupoles wajahku dengan bedak. Ku sisir rambut hitam nan lurus itu dengan lembut. Kubiarkan rambut itu tergerai. Dan tak lupa juga ku tambahkan lip oil dibibir tipisku. Ku pakai sepatu hitamku. Segera kuambil tas coklatku. Kemudian kujabat tangan ibuku.<br /><span id="more-6"></span><br />
“ Bu,aku berangkat ya!”<br />
“Ya, hati–hati,yang pintar ya!” ketika ku menjabat tangan ibuku. Dia selalu mendoakanku seperti itu. Tak hanya aku,bahkan kepada semua saudaraku.<br />
“Ya,bu amien…Assalamu’alaikum.”<br />
“Wa’alaikumsalam “<br />
Daris sudah menjemputku dan kita segera berangkat tapi sebelumnya kami selalu berangkat berlima. Kamipun menunggu yang masih belum selesai. Tapi kalau terlalu lama biasanya kami berangkat dulu. Karena nantinya takut dihukum oleh pak Surya. Akhirnya kami berlima sudah siap untuk berangkat.<br />
Tak beberapa lama pelajaran itu pun dimulai. Seperti biasanya kalau pelajaran sudah dimulai siswa siswi duduk tenang dibangku mereka masing–masing. Kebetulan aku akan naik kelas tiga. Dan kakak kelasku sudah melaksanakan UNAS (Ujian Nasional) beberapa hari yang lalu. Kini mereka hanya menunggu hasilnya saja. Mereka tampak bahagia meskipun hasil ujiannya belum diketahui. Tapi ada juga beberapa anak yang terlihat sedih mungkin mereka takut tidak lulus.<br />
“Senang ya melihat kakak kelas kita sebentar lagi meninggalkan bangku SMP dan naik di bangku SMA!” kuhentikan menyalin tulisan yang berada dipapan hitam itu. Kutarik tanganku dan kusandarkan badanku dibangku coklat itu. Memandang beberapa kakak kelasku yang sedang berjalan melewati kelasku.<br />
“He’e enak ya mereka bakal lulus, dan memekai seragam putih, abu–abu. Aku jadi ingin cepat–cepat lulus kayak mereka neh..he…he&#8230;he!” sahut Nia teman sebangkku.<br />
“Iya ya, aku juga ingin. Oiya kamu sudah selesai menyalin ta Nia?” kusenggol bahunya dengan bahuku. Ntar kalau kamu udah selesai menyalin kasih tahu aku ya? soalnya aku mau pinjam buku kamu saja. Ntar aku nulisnya dirumah saja. He…he…” Sambil ku kedip–kedipkan mataku padanya.<br />
“Yei…enak saja kamu. Terus kalau aku menyalin tulisan itu. Kamu sendiri mau ngapain hayo!”<br />
“He…nggak ngapa–ngapain. Ya lihat kamu nulis lah!” aku memang suka begitu padanya. Sejak aku sama dia kenal mulai kelas satu. Dan aku selalu sebangku sama dia. Dia sebenernya anak yang pendiam tapi kalau sudah di ajak ngomong pasti diamnya langsung hilang. Rumah dia juga nggak terlalu jauh. Desa Balong Nongo namanya. Sekitar 2 km jarak antara rumahnya dengan sekolahan.<br />
“Huh..dasar emang kamu suka kayak gitu kan sama aku. Kalau nggak mana mungkin ya kan!” dia menoleh dan segera membuang muka padaku.<br />
“Ih..kok gitu sih. aku yakin kamu nggak kayak gitu kan?” rayuku padanya dengan mendorong–dorong badannya.<br />
“Aduh, ya…ya… Tapi jangan kayak gini ta, mana bisa nulis aku kalau kamu goyang-goyang kayak gini.” Nampaknya dia sudah mulai kesel sama aku.<br />
“Nah gitu dong, itu baru yang namanya teman ya kan?” aku terus menggodanya. Tapi dia tetap tidak menggubrisnya. Mungkin dia ingin segera selesai menyalin tulisan itu. Beberapa jam kemudian bel istirahat berbunyi.<br />
Ting…ting…<br />
“Nia, ayo istirahat yok!” ajakku sambil berdiri dari bangku dan membetulkan seragamku. Dan tak lupa juga kusisir rambut sebelum keluar kelas. Biar penampilanku lebih menarik. Tak hanya aku saja yang seperti itu. Teman-temanku juga begitu. Malahan ada yang bawa parfum, lip oil, sisir dan cermin. Tapi aku hanya bawa sisir dan aku pinjam cerminnya temanku. Apalagi kalau ada waktunya olahraga. Kelas bukan kayak kelas tapi kayak salon.<br />
“Eh, kalian mau beli apa nih!” Tanya Alfi. Salah satu temanku dia anak yang manis. Centil, cerewet, tapi takut sama cowok. Rumanya juga tak jauh dari sekolahan. Dia anak Sengon.<br />
“Ya nggak tahu lah. Lihat ntar aja deh! “ sahut Ifa. Dia juga temanku. Yang satu ini tambah cerewet. Tapi dia pintar sih dari semua temanku dia yang paling menonjol deh. Selain dia ada lagi yang pintar Ulfah sama Erika. Mereka berdua duduknya sebangku mereka selalu rukun. Mereka cocok banget deh pokoknya. Eiits, ada satu lagi temanku namanya Ana. Diantara yang lain dia berbeda sebab hanya dia yang memakai kerudung dikelasku. Kemana-mana selalu pakai kerudung.<br />
“Ayo mau beli apa? sudah sampai koperasi nih?” dia terus bertanya dan memasukkan tangannya pada saku bajunya. Tampaknya dia mengambil uang.<br />
“Apa ya? Aku beli molen aja deh sama pastel”. Seruku sambil melirik kerumunan anak-anak yang sedang antri menunggu giliran. Makanan itu termasuk jajanan yang paling disukai oleh siswa-siswi SMPN 2 PORONG. Selain itu, makanan yang dijual disitu tak sekedar makanan ringan saja. Misalnya, mie, keroket, pokoknya masih banyak deh.  </p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ceritazahrah.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ceritazahrah.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ceritazahrah.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ceritazahrah.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ceritazahrah.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ceritazahrah.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ceritazahrah.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ceritazahrah.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ceritazahrah.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ceritazahrah.wordpress.com/6/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ceritazahrah.wordpress.com&blog=6963370&post=6&subd=ceritazahrah&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ceritazahrah.wordpress.com/2009/03/15/sadisnya-lumpur-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c1ef8e17eb7a764200233ba133a2598a?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">ceritazahrah</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Sadisnya Lumpur</title>
		<link>http://ceritazahrah.wordpress.com/2009/03/15/sadisnya-lumpur/</link>
		<comments>http://ceritazahrah.wordpress.com/2009/03/15/sadisnya-lumpur/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 15 Mar 2009 07:17:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ceritazahrah</dc:creator>
				<category><![CDATA[cerpen]]></category>
		<category><![CDATA[jabon]]></category>
		<category><![CDATA[lumpur]]></category>
		<category><![CDATA[porong]]></category>
		<category><![CDATA[sidoarjo]]></category>
		<category><![CDATA[zahrah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ceritazahrah.wordpress.com/?p=3</guid>
		<description><![CDATA[Mentari pagi telah menampakkan sinarnya. Ayam jantan pun berkokok sahut-menyahut. Saatnya semua aktivitas manusia dimulai. Gelap tanpa secercah cahaya yang melintas didalam kamarku. Namun, masih sempat terdengar suara gaduh yang setiap hari ku  dengar. Ya, suara itu terdengar dari arah dapur. Setiap hari memang Ibu ku yang selalu bangun tidur terlebih dahulu. Mendengar suara itu [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ceritazahrah.wordpress.com&blog=6963370&post=3&subd=ceritazahrah&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><div id="attachment_10" class="wp-caption alignnone" style="width: 218px"><img class="size-full wp-image-10" title="za" src="http://ceritazahrah.files.wordpress.com/2009/03/za.jpg?w=208&#038;h=156" alt="masjid terendam lumpur Lapindo" width="208" height="156" /><p class="wp-caption-text">masjid terendam lumpur Lapindo</p></div>
<p>Mentari pagi telah menampakkan sinarnya. Ayam jantan pun berkokok sahut-menyahut. Saatnya semua aktivitas manusia dimulai. Gelap tanpa secercah cahaya yang melintas didalam kamarku. Namun, masih sempat terdengar suara gaduh yang setiap hari ku  dengar. Ya, suara itu terdengar dari arah dapur. Setiap hari memang Ibu ku yang selalu bangun tidur terlebih dahulu. Mendengar suara itu aku langsung terbangun dari tempat tidurku. Ibu pergi belanja sedangkan aku masih sibuk menyapu halaman rumah. Tugasku telah selesai, dan tepat sekali ibuku pulang dari belanja. Waktu yang tersisa ku buat membantu ibu untuk menyiapkan sarapan pagi.<br />
<span id="more-3"></span><br />
Setelah membantu ibu. Dan waktu telah menunjukkan pukul 06.15 aku harus segera berangkat sekolah. Jika tidak segera berangkat sekolah aku akan terkena hukuman dari salah satu guruku. Sebab jika ada seorang murid yang terlambat mereka akan berhadapan dengan the killer teacher. Kami biasanya dihukum push up, scot jump, dan lari–lari kecil mengelilingi lapangan.<br />
Aku telah siap untuk berangkat sekolah dan temanku juga sudah menjemputku. Kami segera berangkat dengan mengayuh sepeda merahku  yang selalu menemaniku. Kemana pun aku pergi. Akhirnya aku sampai juga didepan gerbang sekolahku. Dan seperti biasanya seorang laki–laki tua. Berpakaian putih dan celana hitam. Bertopi hitam dan dilengkapi dengan sebuah topi, orang itu tampak begitu rapi. Dan disebelahnya juga berdiri seorang laki–laki yang berbadan tinggi, tegap dan berambut tipis.<br />
“Akhirnya kita sampai juga yach!” ucapku dengan nada puas<br />
“Yach, untung aja kita nggak sampai terlambat !!!”<br />
“Kalau kita terlambat wah… tamat sudah riwayat kita!” gerutunya sambil menuntun sepedanya.<br />
“Iyo, kamu benar untung dech kita nggak terlambat.”<br />
“Masak pagi–pagi sudah dapat sarapan yang semacam itu.”<br />
“ya.. kan.. ya kan…?” jawabku mengimbanginya<br />
Pagi yang cerah membawa nuansa indah yang menemani aktivitas belajar-mengajar di sekolahku. Aku masuk dalam ruang kelasku yang tak jauh dari gerbang II sekolahku. Aku masih melihat siswa–siswi yang terlambat sekolah. Seperti biasanya Pak Surya telah memberi hukuman pada mereka. Dan itu seperti permainan yang selalu dimainkan oleh Pak Surya. Tapi dengan begitu mereka akan cepat belajar disiplin, katanya. Suara gaduh terdengar begitu jelas. Aku penasaran dengan sekelompok temanku yang lebih dulu sampai disekolah. Aku segera menghampiri mereka.<br />
“Pagi Nia….emang ada apa sih kok sampai ramai kayak gini, nggak seperti biasanya deh!” Sapaku dengan nada cepat dan memegang bahunya.<br />
“Lo..emang kamu belum tahu toh?”  dan dia segera bergeser disebelahnya. Agar aku bisa duduk disampingnya.<br />
“Emang ada apa? Kalau aku tahu, kenapa tanya ma kamu Nia.” seruku menyenggol lengannya<br />
“Ada semburan Lumpur didesa ini!!!” mukanya meyakinkanku.<br />
”Apa semburan Lumpur?” aku sempat tak percaya apa yang telah Nia ucapkan padaku.<br />
“Iya, disebelah barat sekolah kita ada pabrik gas milik PT Lapindo Brantas Inc. mungkin karena kelalaian dari pihak pabrik itu, maka sampai terjadi semburan Lumpur.  Tapi juga banyak yang bilang kalau semburan itu terjadi karena adanya pergeseran tanah akibat dari gempa yang terjadi di Yogyakarta.” Suara lantangnya begitu jelas terdengar olehku.<br />
“Emm…gitu ya ceritanya. Wah aku ketinggalan nih ceritanya!” ledekanku menambah ramai suasana dalam  kelas.<br />
“Ah, masak kamu nggak mencium bau yang nggak enak kayak gini sich!”<br />
“Ya sih, tapi nggak tahu bau ini berasal dari mana. Emang kenapa?”<br />
“Ih.. ya bau ini bau semburan Lumpur itu tau!” Nia jengkel melihatku karena aku dari tadi tanya melulu.<br />
Tapi mungkin memang seluruh keluarga besar sekolahku telah banyak yang mengetahui hal itu. Mungkin aku salah satu orang yang ketinggalan berita itu. Mulai saat itu pelajaran telah ditiadakan siswa–siswi mulai  banyak yang keluar masuk kelas. Mereka tampaknya senang sekali.<br />
Seperti burung yang telah lama dikurung dalam sangkar kemudian dilepaskan begitu saja. Bebas dengan senangnya. Layaknya mereka saat itu. Sebab tidak pusing memikirkan pelajaran. Tapi hanya untuk saat itu saja. Mungkin guru-guruku juga tengah membicarakan hal itu, “Semburan Lumpur“. Opini–opini mereka tentang masalah itu berbeda-beda. Ada yang bilang semburan itu terjadi karena adanya pergeseran tanah. Pengaruh dari gempa yang seminggu lalu terjadi di Yogyakarta. Mungkin juga kesalahan dari pabrik itu sendiri. Mungkin semua opini mereka bisa dijadikan buku tebal seratus halaman.<br />
Tapi entahlah, mana yang benar aku sendiri juga belum tahu semburan Lumpur itu di sebelah mana tapi temanku tadi sudah menjelaskan jika semburan itu disebelah barat sekolahku. Dan sebelumnya aku juga nggak pernah tahu jika didaerah itu ternyata ada pabrik gas. Setahu ku pabrik gas di tempatku cuma satu di desa Permisan. Dan memang setahuku di desa itu banyak sekali pabrik Ternyata di desa Renokenongo juga ada pabrik gas yaitu PT Lapindo Brantas Inc.<br />
Matahari mulai memancarkan cahayanya. Angin berhembus dengan lembutnya. Dedaunan yang bergoyang–goyang serempak mengiringi hembusan angin. Suasana ramai itu tiba–tiba hilang begitu saja. Lenyap tanpa berbekas.<br />
ting….ting….ting…..<br />
Suara lonceng itu terdengar dari segala penjuru sekolahku. Akhirnya kami semua dipulangkan lebih awal. Dan itu merupakan kesempatan emas buatku untuk bisa melihat semburan Lumpur itu. Karena dari tadi aku Cuma bisa mendengar cerita dari teman-temanku. Aku segera menuju tempat parkir sepeda. Aku sudah tak sabar ingin melihat semburan Lumpur yang dari tadi jadi bahan pembicaraan satu sekolah.<br />
Aku mengayuh sepeda merahku bersama teman–teman menuju semburan Lumpur. Sesampainya disitu, sudah banyak orang yang telah lalu lalang memenuhi tempat itu. Semburan Lumpur telah meluber ke jalan raya. Tapi jalan itu masih bisa dilewati oleh truk–truk yang membawa beban berat meskipun jalanan itu sudah di genangi Lumpur. Dan tak hanya jalan raya saja yang sudah digenangi Lumpur tapi areal persawahan pun juga sudah sebagian ada yang terkena luberan Lumpur. Keresahan tampak dari wajah orang–orang sekitar pabrik.<br />
“ Aduh, sampai kayak gini yah!” Keluhku pada teman–temanku<br />
“Wajah orang–orang itu nampak resah melihat semburan itu,kasihan mereka. Ya, mudah–mudahan saja semburan Lumpur ini bisa cepat dihentikan ya!” hatiku merasa iba melihat kejadian itu.<br />
“Amin–amin! Oiya sekarang kita pulang yuk. Tapi lewat sini aja nggak usah putar lagi lewat sana ntar tambah jauh” Seru Rida pada kami.<br />
“Baiklah,,terserah kamu dech,,,apa sich yang nggak buat kamu..?”<br />
“Oo…macak sih….bisa aja deh..!” dia mencubitku dengan centil<br />
“he…he…he….”  senyum manisku menambahkan.<br />
Debu–debu beterbangan. Terik matahari semakin panas membakar kulitku. Rona wajahku memerah seperti tak sanggup lagi untuk mengayuh sepeda. Asap–asap kendaraan bermotor bertambah padat. Kemacetan jalan raya porong setiap hari tak pernah ada perubahan sedikitpun. Beruntung aku naik sepeda dan takkan bisa terjebak oleh kemacetan. Aku ingin segera sampai rumah istirahat, dan nonton TV. Namun perasaan itu bisa cepat terlupakan setelah melewati kemacetan yang sangat padat itu. Dan ditambah lagi aku bersepeda sambil cerita dengan temanku. Hampir setengah jam perjalanan akhirnya aku sampai juga dirumah. Seperti biasanya tetanggaku ngumpul dengan tetanggaku yang lain. Tampaknya mereka sedang asyik membicarakan sesuatu. Tapi aku tidak langsung pulang kerumah. Aku mampir dulu kerumahnya Daris. Seorang wanita memakai baju santai dan rambutnya diikat dengan pita warna merah. Dia membawa mangkok kecil didalamnya terdapat nasi dan lauknya. Dia sedang menyuapi anaknya.<br />
“Eh,beneran ta di Reno ada semburan Lumpur?” seru wanita itu dengan menyuapi anaknya.<br />
“He’e, emang ada. Loh mbak Zah, bau lumpurnya sampai sini ya?” ditaruhnya sepeda itu didepan rumahnya.<br />
“Iya ya padahal jaraknya sangat jauh kan?”<br />
“Loh, yang kalian maksud ini bau Lumpur itu ta?” sahut wanita  itu dengan kaget.<br />
“Iya, emang dari tadi bau ini sudah  tercium ta?”<br />
“Ya, dari tadi pagi bau ini ada. Semua mengira kalau bau ini berasal dari septic tanknya orang–orang. Ada juga yang mengira kalau bau ini berasal dari bau kulit sapi (cecek) yang sedang direbus hingga menyebabkan bau seperti ini. Ternyata ini bau Lumpur toh. Oiya pabriknya sebelah mana sih,?”<br />
“Pokoknya sebelah barat sekolahku.”<br />
Aku pulang kerumah dan kebetulan rumanku tak begitu jauh dengan rumahnya Daris. Jika dilihat dari jendela rumahnya Daris pasti sudah kelihatan. Sampainya dirumah aku cerita dengan ibuku. Dan aku diintrogasi oleh ibu  seperti berada diruang kepolisian.</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ceritazahrah.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ceritazahrah.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ceritazahrah.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ceritazahrah.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ceritazahrah.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ceritazahrah.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ceritazahrah.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ceritazahrah.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ceritazahrah.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ceritazahrah.wordpress.com/3/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ceritazahrah.wordpress.com&blog=6963370&post=3&subd=ceritazahrah&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ceritazahrah.wordpress.com/2009/03/15/sadisnya-lumpur/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c1ef8e17eb7a764200233ba133a2598a?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">ceritazahrah</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://ceritazahrah.files.wordpress.com/2009/03/za.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">za</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>